TERAPI AN-NUR : SEHAT DAN SEMBUH TANPA OBAT

Minggu, 03 April 2011

Mereka Bersandar pada Daunnya

Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Sirsak madu sulaeman sudah sohor di antara rekan-rekan Sulaeman, si empunya pohon. Maklum buah Annona muricata itu manis tanpa rasa asam. “Kalau saya main tenis, teman-teman pesan untuk dibawakan jusnya,” kata pengusaha tekstil di Bandung, Jawa Barat, itu. Kini tak hanya buah, daunnya pun diincar.

Harap mafhum, belakangan daun tanaman anggota famili Annonaceae itu ramai disebut-sebut memiliki khasiat antikanker. Itu seperti hasil studi oleh periset di Sekolah Farmasi Purdue University, Indiana, Amerika Serikat, Jerry L McLaughlin dan peneliti di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodihardjo PhD. Riset menggunakan bahan baku daun sirsak asal Garut, Jawa Barat, itu menunjukkan kandungan senyawa aktif acetogenins pada daun sirsak ampuh menumpas 7 sel kanker. Yaitu kanker serviks, payudara, usus besar, pankreas, prostat, paru-paru, dan ginjal.

Riset itu didukung oleh bukti empiris pengalaman banyak pasien kanker. Angka penanda kanker seorang pasien kanker usus di Bandung, Jawa Barat, turun setelah menelan kapsul berisi ekstrak daun sirsak. Sel kanker yang semula terdeteksi menyebar ke lengan seorang penderita kanker payudara hilang pascakonsumsi air rebusan daun sirsak dan kaspul berisi ekstrak daun sirsak.

Menurut dr Hardhi Pranata SpS MARS, acetogenins dalam daun sirsak mengendalikan mitokondria yang overacting. Mitokondria merupakan organ sel penghasil energi berupa adenosine trifosfat (ATP) yang banyak dibutuhkan sel kanker untuk berkembang. “Jika mitokondria normal maka pertumbuhan sel kanker dapat terkendali,” tutur alumnus Universitas Indonesia itu kepada wartawan Trubus, Lastioro Anmi Tambunan.

Khasiat daun sirsak pula yang kini tengah dicoba oleh Shahnaz Haque. Shahnaz diketahui menderita kanker ovarium yang menyebabkan salah satu indung telurnya diangkat pada 1998. Hingga kini ia disiplin menjalani hidup sehat dan mengonsumsi herbal untuk menjaga kesehatan tubuh. “Sebagai survival cancer kemungkinan seseorang terkena kanker kembali sangat besar,” kata herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati yang meresepkan daun sirsak untuk Shahnaz. Pantas dengan khasiatnya itu daun sirsak kini menjadi incaran banyak orang. Termasuk daun dari pohon milik Sulaeman. (Evy Syariefa/Peliput: Endah Kurnia Wirawati & Faiz Yajri)

Shahnaz Haque, “Riwayat Kanker dalam Keluarga"

“Sebagai survival cancer saya harus konsisten merawat tubuh untuk menjaga kesehatan,” tutur aktris Shahnaz Haque kepada wartawan Trubus, Endah Kurnia Wirawati. Pilihan Shahnaz antara lain jatuh pada herbal.

Aktris kelahiran 1 September 1972 itu pernah divonis menderita kanker ovarium sehingga menjalani operasi pengangkatan salah satu indung telurnya pada 1998. Dokter sempat menyebutkan istri dari musisi Gilang Ramadhan itu tidak bisa memiliki keturunan. Namun, kenyataan berkata lain, “Alhamdulillah Allah SWT masih mengizinkan saya memiliki 3 putri,” ujar ibu dari Pruistine Aisha, Charlotte Fatima, dan Mieke Namira Haque Ramadhan itu.

Menyadari “mewarisi” riwayat kanker dalam keluarga—ibunda Shahnaz meninggal karena kanker ovarium—pembawa acara di beberapa stasiun televisi swasta itu menjalani hidup sehat. Pola makannya vegetarian, tidak merokok, dan tidak minum kopi. Shahnaz pun rajin menjalani ibadah puasa.

Di luar itu Shahnaz mengonsumsi herbal. Herbal juga yang menjadi pilihan Gilang untuk mengatasi keluhan kesehatannya antara lain sinus dan asma. Menurut Shaqnaz yang diamini oleh herbalis Valentina Indrajati, peran herbal mirip sel punca yang memiliki kemampuan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sel punca biasanya diambil dari tali pusar saat bayi lahir. Hasil pemeriksaan oleh Valentina pada Shaqnazternyata terdeteksi adanya kanker pada ginjal dan ovarium meski tahap awal sekali.

Dengan riwayat kanker, Shahnaz segera mengonsumsi herbal terdiri atas daun sirsak, jamur ling zhi, benalu duku, dan temuputih. Ling zhi alias ganoderma mengandung polisakarida yang berperan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Benalu duku secara in vivo dan in vitro mampu menghambat sel kanker rahim. Kandungan mistellectin dan viscotoxin-nya membunuh sel kanker secara selektif. Sementara temuputih ampuh menghambat pertumbuhan sel kanker.

Shahnaz mengimbangi terapi itu dengan yoga. “Penyembuhan kanker secara holistik termasuk bermeditasi untuk menjernihkan pikiran dari emosi,” tutur Shahnaz yang berlatih yoga sekali seminggu. Satu setengah bulan mengonsumsi herbal Shahnaz kembali diperiksa. Hasilnya kanker pada ginjal tidak terlihat lagi, sementara pada ovarium membaik. ***

Nyoman Nuarta, “Daun Sirsak untuk Kesehatan"

Sudah setahun terakhir pematung berkaliber internasional yang mendesain dan membangun Monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya, Nyoman Nuarta, mengonsumsi air seduhan daun sirsak. Setiap pagi ia mengambil sejumput rajangan daun sirsak kering dan menyeduhnya dengan air panas. Air seduhan itu ia minum, mirip seperti menyeruput minuman teh Camellia sinensis. “Ini untuk menjaga kesehatan,” tutur pematung kelahiran 1 November 1951 itu.

Pendiri Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ervizal AM Zuhud MS, menuturkan secara turun-temurun daun dan buah sirsak memang dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk menyehatkan tubuh. Rebusan daun sirsak yang diberi gula jawa dan air perasan jeruk lemon, misalnya, mempunyai efek relaksasi dan membuat mudah tidur. Pantas Nyoman memilih daun Annona muricata itu untuk menjaga kesehatan. ***

SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5270:mereka-bersandar-pada-daunnya&catid=81:topik&Itemid=520

Penggempur Kanker Mahkota Kedua


Yoan.. penderita kanker payudara stadium 4 yang optimis sembuh dengan konsumsi rebusan daun sirsak

Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Riset menunjukkan acetogenins pada daun sirsak mampu menggempur sel kanker payudara. Dua perempuan ini membuktikan.

Ditemui di rumahnya, perumahan Kodam, Bintaro, Tangerang, Yoan tampak sumringah. Ia seakan tak peduli dengan kanker payudara yang menderanya. Setiap pagi ia tak pernah absen berjalan kaki mengelilingi kompleks. Aktivitas lain tetap dijalani seperti biasa. Pantas kalau para tetangga tidak mengira perempuan kelahiran Nanggroe Aceh Darussalam 45 tahun silam itu mengidap penyakit mematikan.

Padahal, sel kanker sebesar telur ayam kampung di payudara kirinya bersemayam sejak November 2010. Benjolan yang teraba Yoan ketika mandi di suatu pagi segera dikonsultasikan kepada dokter di sebuah rumahsakit di Jakarta. “Harus operasi karena kanker sudah stadium 4,” jawaban dokter pendek. Menurut dr Andhika Rachman Sp Pd kanker disebut stadium 4 jika sudah menyebar ke organ-organ lain seperti tulang, paru-paru, dan darah. Satu-satunya cara untuk mengatasi dengan pengangkatan organ yang dilanjutkan dengan kemoterapi.

Mantan inspektur di sebuah perusahan kecantikan di Depok, Jawa Barat, itu menolak operasi karena biaya mahal dan sel kanker kerap muncul lagi pascaoperasi. “Toh banyak herbal yang bisa diandalkan untuk mengendalikan kanker,” pikir Yoan, yang hobi membaca buku kesehatan dan pengobatan alternatif.

Dompolan anggur

Yoan memilih mengonsumsi herbal dari China yang dibeli di agen di Jakarta. Ada 4 jenis obat dalam bentuk kapsul yang mesti diasup Yoan setiap hari dengan frekuensi dan dosis berbeda. Hasilnya? “Tak ada perubahan apa-apa. Justru setelah diperiksakan ke dokter, sel kanker menyebar ke lengan kiri hingga pergelangan, pangkal leher, dan perut,” tutur Yoan. Ketika bagian lengan diraba, terasa seperti ada dompolan anggur berukuran kecil-kecil.

Lalu dari seorang sahabat, Yoan mendapatkan informasi tentang khasiat daun sirsak sebagai penumpas kanker. Tanpa pikir panjang, keesokan hari Yoan langsung menyuruh pembantu mengambil daun sirsak dari pohon yang tumbuh di belakang pasar dekat rumah. “Setiap kali mengambil sekantong plastik penuh, supaya bisa digunakan untuk beberapa hari,” kata Yoan. Daun yang dipetik tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.

Yoan merebus daun graviola itu. Sekali merebus sebanyak 33 lembar dalam panci berisi 9 gelas air. Dengan api kecil mantan karyawan di sebuah tabloid olahraga terkemuka itu membiarkan proses perebusan berlangsung hingga diperoleh 3 gelas air rebusan. Jumlah itu untuk diminum 3 kali sehari setiap habis makan—pagi, siang, dan malam. Ampas sisa rebusan ia rebus sekali lagi. “Diminum hangat-hangat kuku lebih enak, tapi setelah dingin pun tidak masalah,” imbuh Yoan.

Mengecil

Berbarengan dengan itu Yoan berkonsultasi pada dokter dan herbalis di Serpong, Tangerang, Banten. Ia diminta mengonsumsi 3 jenis kapsul yang di antaranya berisi ekstrak daun sirsak. Yoan juga mesti menjalankan diet ketat makanan dan pikiran. “Di kulkas hanya ada apel, sirsak, pisang, tomat, dan wortel untuk dijus. Karena buah-buahan dan sayuran itu yang saya makan selain nasi campuran merah dan putih,” kata Yoan. Buah-buahan musiman seperti durian, rambutan, dan mangga pantang dimakan.

Yang paling berat adalah diet pikiran. “Ini yang kadang tidak bisa saya hindari. Kejadian masa lalu yang membuat saya stres dan keluar dari pekerjaan, kerap muncul,” kata Yoan. Yoan juga bangun pukul 04.00 dinihari dan langsung ke luar tanpa beralas kaki untuk mengirup oksigen serta bolak-balik menyusuri Jalan Jeruk di kompleks perumahannya sebanyak 10 kali. “Di luar itu, saya meminimalkan penggunaan telepon dan nongkrong di depan komputer untuk menghindari radiasi,” tambahnya.

Sebulan setelah mengonsumsi kapsul dan rebusan daun sirsak kondisinya terus membaik. Yoan memang belum melakukan pemeriksaan medis untuk mengecek keberadaan sel kanker. Namun yang jelas sel-sel kanker yang metastasis di tangan dan perut hilang. Sementara benjolan di payudara berkurang 2 cm. Hasil itu sejalan dengan riset Prof Soelaksono Sastrodiharjo dari Institut Teknologi Bandung dan Jerry Mclaughlin dari Universitas Purdue, Amerika Serikat.

Riset mereka melaporkan daun sirsak mengandung annomuricin E, senyawa kelompok acetogenins. Dari 14 jenis acetogenins, 13 di antaranya berpotensi menghambat multi-drug resistance (MDR) pada sel kanker payudara. Acetogenins bekerja dengan cara menghambat kinerja pembentukan ATP—e nergi—oleh mitokondria pada sel kanker.

Bantu kemoterapi

Titin Supriatin di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, juga menyandarkan asa pada daun sirsak untuk mengatasi kanker payudara yang diderita sejak 2004. Dokter memang sudah mengangkat payudara kirinya dan Titin diharuskan menjalani kemoterapi sebanyak 3 kali. Hasilnya memuaskan karena setiap check up 1 tahun sekali tidak ada tanda-tanda sel menyebar ke organ lain. Hati perempuan 67 tahun itu pun tenteram.

Namun, pemeriksaan pada September 2010 begitu mengagetkan. Kanker payudara pada pensiunan kepala sekolah itu dinyatakan kambuh. Bahkan jika semula pada stadium 2, kini menjadi stadium 4. Sel-sel kanker meluas ke tulang, leher, ketiak, hati, dan paru-paru. Atas saran kakak iparnya, Hendarlin, sembari kemoterapi Titin mengonsumsi rebusan daun sirsak 2 gelas dan segelas jus sirsak sehari. Hasilnya, pada Februari 2011—setelah 6 kali kemoterapi dan rutin mengonsumsi rebusan daun serta jus sirsak—benjolan di leher, ketiak, dan payudara menghilang.

Hendarlin yakin, peran rebusan daun dan jus sirsak sangat besar pada pengobatan kasus kanker payudara adik iparnya. Musababnya, sang istri yang juga mengidap kanker payudara, tidak bisa tertolong meskipun menjalani operasi dan kemoterapi, tapi tanpa bantuan herbal.. Dengan begitu, pantaslah Yoan dan Titin optimis bisa sembuh dari derita kanker payudara. (Karjono/Peliput: Tri Istianingsih

SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5271:penggempur-kanker-mahkota-kedua&catid=81:topik&Itemid=520

)

Graviola untuk Kanker Otak

dr Andhika Rachman SpPD salah seorang penggiat daun sirsak untuk kanker otak
Segelas teh daun sirsak yang sembuhkan kanker otak 10000 kali lebih ampuh dari obat kanker lainnya
Apapun jenis kanker otak anda minumlah teh daun sirsak maka akan dibantu kesembuhannya hingga 10000 kali lebih cepat dibanding obat kanker lainnya. Konsumsi juga untuk pencegahan kanker otak dan masalah otak lainnya.

Prof Soelaksono Sastrodihardjo, teliti sirsak 1995-1996 dengan biaya dari Bank Dunia.

Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Sedianya Nelleke Sosromihardjo menghadiri pesta pernikahan adiknya pada Juli 2009. Namun, usai mandi dan berpakaian rapi, bukannya berangkat ke pesta, tetapi ia justru tidur pulas di kamarnya.

anak-anaknya lebih dulu berangkat ke pesta pernikahan karena membawa kue dan penganan lain. Sedangkan suaminya berangkat dari kantor. Keesokan harinya keluarga bertanya alasan Nelleke tak menghadiri pesta pernikahan sang adik. Nelleke kaget, “Oh ya… padahal, kemarin saya sudah mandi. Kok lupa ya?” Ia benar-benar alpa bahwa kemarin adiknya melangsungkan pernikahan. Nelleke Sosromihardjo lupa menepati janji.

Setelah kejadian itu, ingatannya malah memburuk. Perempuan 53 tahun itu tak dapat mengetahui nama hari atau nama benda di sekitar dia. Jika minta tolong kepada pramuwisma untuk mengambil sesuatu, ia hanya menunjuk benda yang dimaksud, tanpa menyebut namanya. Ia sering salah sebut nama hari atau tanggal. Meski demikian ia bersikeras dirinya yang benar. Bahkan, pada siang hari yang terang benderang, ia tidak tahu apakah itu pagi, siang, sore, atau malam.

Tanpa respon

Keluarga membawa Nelleke ke sebuah rumahsakit di Jakarta Selatan pada Juli 2009 karena kondisinya kian mengkhawatirkan. Setelah melalui pemeriksaan intensif, antara lain dengan pencitraan resonansi magnetik (MRI magnetic resonance imaging), dokter mendiagnosis Nelleke positif kanker otak. Sel kanker metastasis ke pelipis kanan dan menekan saraf-saraf motorik di kepala.

Untuk mengatasi penyakit ganas itu, dokter menyarankan agar Nelleke menjalani operasi pengangkatan sel kanker. Sayangnya, di rumahsakit itu fasilitas tak begitu lengkap sehingga dokter merujuk ke rumahsakit lain di Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Pascaoperasi Nelleke mengonsumsi lebih dari 5 jenis obat 3 kali sehari. Kondisi kesehatan Nelleke pun berangsur pulih. Ia mampu menyebut nama-nama benda di sekitarnya.

Namun, sepuluh bulan berselang, pada Mei 2010, tiba-tiba kondisi Nelleke memburuk. Dokter yang dulu menangani Nelleke dalam operasi, memang telah memprediksi bahwa dalam setahun mendatang sel kanker tumbuh lagi. Nelleke tak mampu berkomunikasi. Jika keluarga atau kerabat memanggil namanya, ia tak menyahut. Menurut suster yang merawat di rumah, Nelleke menolak makan dan minum. Ibu tiga anak itu tidak mau melakukan apa pun. Adik Nelleke, Tirza Tuwahatu, yang menjenguk melihat kondisi Nelleke yang datar. “Matanya kosong, ia menatap ke depan dan tidak ada reaksi, meski namanya dipanggil,” kata Tirza.

Keluarga kembali membawa Nelleke itu ke rumahsakit di Kota Tangerang Selatan. Menurut dokter yang memeriksanya, kondisi Nelleke memburuk juga diperparah oleh karena perawat di rumah tak memberikan obat. Perawat tak telaten karena untuk minum satu obat, Nelleke membutuhkan 15 menit. Harap mafhum, fungsi motorik tenggorokannya belum pulih benar. Tirza sebenarnya curiga karena tiap kali bertanya kepada perawat, apakah sudah memberikan obat, ia selalu menjawab sudah.

Padahal, dengan obat yang begitu banyak seharusnya perlu waktu agak lama untuk meminumkannya. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa kanker otak membesar dalam sembilan bulan sejak operasi pada Agustus 2009. Untuk mengatasinya, Nelleke menjalani lima kali kemoterapi pada Juni 2010. Setelah operasi kedua, keadaan Nelleke berangsur-angsur pulih.

Ia bisa berjalan, meski perlahan-lahan. Selain itu memori Nelleke tampak lebih baik. Ia mampu mengingat dan menyebut nama-nama benda setelah operasi kedua. Namun, pada pertengahan Agustus 2010, ia bagai tak putus dirundung malang. Nelleke mendadak tidak bisa berjalan sehingga memerlukan bantuan orang lain dengan duduk di atas kursi roda. Saat itu ia juga kesulitan berbicara. Kesehatannya kembali memburuk.

Untuk ketiga kalinya, keluarga bergegas membawa Nelleke ke rumahsakit. Mengutip pendapat dokter, Tirza Tuwahatu mengatakan bahwa kemoterapi tidak memberikan pengaruh positif, justru merusak organ tubuh lain. Obat kemoterapi sama sekali tidak menyentuh sel kanker. Akibatnya sel kanker kembali membesar beberapa milimeter. Menurut dr Andhika Rachman SpPD, ahli kanker dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, keberhasilan kemoterapi konvensional untuk mengatasi kanker otak memang kecil.

Tingkat keberhasilan kemoterapi cukup baik untuk kanker otak jinak seperti meningioma dan jika hanya sedikit massa yang diambil. Artinya sel kanker masih kecil. Namun, setelah kemoterapi biasanya pasien mengalami gejala sisa mirip pasien stroke. “Makin besar massa kanker, makin besar pula gejalanya,” kata dr Andhika Rachman SpPD. Itulah sebabanya pengobatan kanker otak sebaiknya dengan penyinaran lebih banyak dan operasi pengangkatan.

Masih misteri

Andhika Rachman dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik Rumahsakit Ciptomangunkusumo mengatakan bahwa sampai saat ini penyebab pasti munculnya kanker otak masih misteri. Tidak seperti kanker paru yang diakibatkan kebiasaan merokok. Gejala awal kanker otak berupa sakit kepala yang makin lama bertambah intensitasnya berbanding lurus dengan besarnya massa kanker di otak. Artinya, ketika massa sel kanker bertambah besar, maka intensitas sakit juga meningkat.

Selain itu, “Rasa sakit tergantung dari struktur organ yang ditekan oleh kanker. Sebab, kepala atau tengkorak bersifat rigid, tidak bisa mengikuti pertambahan volume sehingga massa otak terimpit,” ujar dokter alumnus Universitas Indonesia itu. Oleh karena itu gejala neurologis yang timbul akibat sel kanker sangat tergantung pada bagian yang didesak. Kadang-kadang muncul sakit kepala dengan penglihatan ganda atau diplopia. Menurut Rachman itu akibat daerah percabangan saraf atau optik bagian depan terserang sel kanker.

Namun, jika di daerah belakang yang terserang kanker, maka menyebabkan gangguan keseimbangan. Pada umumnya penderita kanker otak merasakan sakit kepala yang hebat sekali. Sialnya, meski pasien disiplin mengonsumsi obat analgetik, tak cukup untuk meredakan sakit hebat itu. “Bila posisi kanker di daerah lindik, kadang-kadang emosinya berubah-ubah,” kata dokter spesialis penyakit dalam itu. Harap mafhum, lindik memang berfungsi sebagai pengatur pusat emosi.

Singkat kata tulang tengkorak bersifat rigid atau tetap. “Sakit kepala timbul karena tekanan yang tinggi,” kata Rachman. Menurut dr Budi Darmawan Machsoos SpPD dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, lokasi tumor pada organ vital lebih cepat menimbulkan keluhan atau gejala yang khas. Organ vital itu antara lain otak, paru, pankreas, dan ginjal. Semakin lanjut stadium tumor, maka kian banyak keluhan.

Andhika Rachman mengatakan bahwa deteksi dini sel kanker paling bagus agar dapat penanganan tepat. Namun, pada kasus kanker otak, tidak semua bisa diangkat. Sebab, prinsip pengangkatan sel kanker termasuk area di sekitarnya hingga margin 2 mm. “Jika area dengan margin 2 mm diambil, massa otak bisa habis,” kata Rachman. Oleh karena itu pengangkatan kanker otak sebaiknya ketika sel kanker masih kecil atau belum menekan saraf otak.

Mengecil

Ketika kondisi Nelleke tak kunjung membaik, Tirza memberikan ekstrak daun sirsak dan herbal lain seperti sambiloto atas saran seorang herbalis. Sambiloto Andrographis paniculata berperan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh Nelleke. Ketika kekebalan tubuh meningkat, mampu mengatasi gangguan kesehatan. Tirza menuangkan isi kapsul, mencairkan, dan memberikan kepada Nelleke. Dosis masing-masing satu kapsul tiga kali sehari.

Menurut dr Andhika Rachman SpPD herbal sebagai terapi suportif seperti dilakukan Nelleke bagus sekali. “Pertama, karena adanya senyawa antikanker dalam herbal itu. Kedua, akan meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Rachman. Ia tidak menyarankan herbal, tapi juga tidak melarang jika pasiennya ingin meminumnya. Yang penting dosisnya jelas.

Perkembangan signifikan terjadi setelah 12 hari Nelleke rutin mengonsumsi kapsul daun graviola alias sirsak. “Ia sudah bisa merespon jika ada yang memanggil namanya, diajak bicara sudah bisa menjawab meski masih terbata-bata. Ia pun bisa mengangkat tangannya setinggi bahu,” kata Tirza. Saat ini pengobatan Nelleke hanya berupa ekstrak herbal seperti daun sirsak dan sambiloto serta fisioterapi. Ahli fisioterapi dari sebuah rumahsakit di Jakarta Barat datang ke rumah Nelleke di Jakarta Selatan. Frekuensi fisioterapi tiga kali sepekan masing-masing selama satu jam.

Nelleke memeriksakan diri terakhir pada awal Maret 2011. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa ukuran sel kanker mengecil. Sayang, ketika Trubus ingin melihat hasil rekam medis, Nelleke dan Tirza belum dapat memberikan. Sebab, anak-anaknya yang bermukim di Bandung membawa rekam medis itu. Informasi itu Trubus peroleh, setelah pulang liputan di Bandung. Trubus mewawancarai Nelleke di Jakarta.

Perihal membaiknya Nelleke dari kanker otak belum ada riset ilmiah yang mampu menjelaskan secara rinci. Uji praklinis daun sirsak pada umumnya untuk mengatasi kanker serviks, payudara, prostat, kanker paru-paru, ginjal, pankreas, dan usus besar. Peneliti di Sekolah Farmasi Purdue University, Indiana, Amerika Serikat, Jerry L McLaughlin, pun menggunakan ke-7 sel kanker itu. Prevalensi kanker otak memang relatif rendah ketimbang kanker payudara, misalnya.

Menurut data Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan pada 2007, pasien kanker terbanyak yang dirawat di rumahsakit adalah pasien kanker payudara mencapai 8.277 orang, kanker serviks (5.786), kanker hati (4.759), dan leukemia (3.645). Peneliti di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodihardjo PhD meriset daun sirsak bersama Jerry L McLaughlin. Mereka menemukan senyawa aktif acetogenins di dalam daun anggota famili Annonaceae itu.

Uji praklinis membuktikan bahwa acetogenins menghambat adenosina trifosfat (ATP), sumber energi bagi sel kanker. Padahal, sel kanker memerlukan banyak energi karena pembelahan yang sangat cepat. Akibat penghambatan itu maka sel kanker kekurangan pasokan energi sehingga akhirnya sel kanker mati. Acetogenins sangat selektif, hanya menyerang sel kanker yang memiliki kelebihan ATP; sel-sel lain yang normal di dalam tubuh, tak diserang.

Jerry McLaughlin bersama Gina Belessa dan Jerry Loren memang meriset khasiat antikanker otak. Namun, mereka memanfaatkan pawpaw Asimina triloba. Antara sirsak Annona muricata dan pawpaw Asimina triloba memang masih sekerabat. Kedua tanaman itu sama-sama anggota famili Annonaceae. McLaughlin memberikan ekstsrak daun pawpaw kepada enam penderita kanker otak pada Februari 2003. Namun, Journal of Application Publication yang terbit pada 16 Juli 2009, hanya menyebutkan kondisinya membaik (feeling well).

Perbaikan kesehatan Nelleke relatif bagus karena mampu merespon ketika kerabat dan keluarga memanggil namanya. Ia juga dapat menyebut nama benda-benda di sekitarnya. Padahal, secara medis semula tak ada harapan. Ekstraksi daun sirsak dan daun sambiloto telah membangunkan harapan keluarga Nelleke. Tentu saja itu bukan segala-galanya. Sebab, kepedulian keluarga, jiwa, sikap, gaya hidup juga menentukan kesembuhan seseorang. (Sardi Duryatmo/Peliput: Endah Kurnia Wirawati)

SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5274:graviola-untuk-kanker-otak&catid=81:topik&Itemid=520

Pembebas Derita Kanker Usus

dr Oetjoeng Handajanto, salah seorang penggiat obati kanker usus dengan daun sirsak.

Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

“Oeekk…!!!” Muntah berupa kotoran itu puncak derita Dharma Adhi. Dua belas hari kesulitan buang air besar, dokter memvonis Dharma menderita kanker usus.

Dharma Adhi, sebut saja demikian namanya, mulai mengeluhkan sembelit sejak Oktober 2009. Mula-mula frekuensi buang air besar berkurang, dan tak tuntas. “Seolah masih ada yang mengganjal dan tersisa,” tutur ayah 2 anak itu. Kian hari bahkan ia tidak dapat berhajat sama sekali. Dua pekan berlalu, perut Dharma pun membuncit.

Wina Sundari, sang istri, bergegas membawa Dharma ke unit gawat darurat sebuah rumahsakit di Bandung, Jawa Barat. Doker jaga menyarankan Dharma mengonsumsi larutan garam inggris. Epsom salt - karena berasal dari Epsom, Surrey di Inggris - itu mengandung magnesium sulfat dan kerap digunakan sebagai pencahar. Garam inggris meningkatkan kadar air dalam usus sehingga kotoran melembek dan mudah dikeluarkan.

Setengah jam setelah mereguk 2 sendok makan larutan garam inggris, mulas pertanda hendak buang air besar tak kunjung datang. Dharma kembali meminum larutan garam inggris dan menunggu 30 menit. Lagi-lagi belum ada hasil. Pun setelah ia minum sekali lagi dan menunggu 30 menit berikutnya. Pada Sabtu sore itu dokter akhirnya menyarankan Dharma untuk menjalani rontgen pada Senin. Pemeriksaan itu untuk mengetahui lebih pasti penyebab Dharma konstipasi.

Kanker menyebar

Senin pagi, Dharma menjalani rontgen. Sembari menunggu hasil pemeriksaan keluar, ia kembali disarankan untuk mengonsumsi larutan garam inggris. Pria berambut putih itu menurut. Ia mulai meminum garam inggris pukul 11 siang. Karena tidak ada reaksi, selang 2 jam kemudian, larutan garam inggris kembali ia konsumsi.

Tak ada hasil, Dharma pun menelepon ke rumahsakit dan disarankan untuk menghabiskan konsumsi larutan garam inggris. Total jenderal ia hari itu menghabiskan 6 gelas larutan garam inggris. Tak tahan penderitaan itu, Dharma meminta sang istri menyiapkan baju dan bersiap pergi ke rumahsakit. “Kata bapak lebih baik opname di rumahsakit, jika terjadi sesuatu mudah ditangani,” kata Wina.

Sesampainya di rumahsakit, lagi-lagi pria kelahiran 14 Maret itu diminta mengonsumsi larutan garam inggris. “Melihatnya saja sudah mual,” tuturnya. Setelah meminum 2 gelas larutan itulah tiba-tiba ia memuntahkan kotoran dari mulut. Hasil rontgen menunjukkan sebuah benjolan sebesar telur ayam di usus besar dan menghalangi keluarnya tinja.

Dharma pun menjalani operasi pengangkatan tumor. Usus besarnya pun turut dibuang sepanjang 20 cm. Setelah istirahat selama 7 hari di rumahsakit dan menghabiskan biaya Rp50-juta, pria 67 tahun itu diperbolehkan pulang. Sebuah plastik kolostomi untuk menampung kotoran dipasang di bagian pinggang.

Menurut dr Nano Sukarno di Majalengka, Jawa Barat, perubahan pola defekasi (pengeluaran kotoran) menjadi lebih jarang, buang air besar berdarah, bobot badan turun, anemia, serta nyeri pada bagian perut merupakan beberapa indikasi terjadinya kanker usus. Normalnya waktu transit makanan mulai dari konsumsi hingga dikeluarkan lagi melalui feses tidak melebihi 48 - 72 jam. Oleh karena itu kewaspadaan dini dengan memeriksakan diri ke dokter merupakan hal yang dianjurkan.

Hasil pemeriksaan pascaoperasi menunjukkan kanker usus stadium 3b yang diderita Dharma telah menjalar ke paru-paru dan liver. Di paru-paru terdapat 4 bercak berukuran 5 - 7 mm. Sementara di liver ada 3 bercak mencurigakan. Nilai CEA carcio embryonic antigen 8 ng/ml, kadar normal 5 ng/ml.

Pola hidup

Menurut The Gale Encyclopedia of Cancer, CEA merupakakan antigen tumor yang ditemukan dalam darah penderita kanker terutama usus besar, payudara, kandung kemih, leher rahim, dan indung telur. Nilai CEA digunakan sebagai penanda perkembangan sel kanker pascaoperasi. “Jika CEA naik pertanda sel kanker kambuh atau menyebar ke organ lain,” tutur dr Sunarto Reksoprawiro SpB(K) Onk, ahli bedah onkologi di rumahsakit dr Soetomo, Surabaya. Pertumbuhan sel kanker yang cepat ibarat mengudeta sel normal.

Dr Aru Wisaksono Sudoyo SpP, KHOM, FCAP, FINASIM dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, menuturkan kanker usus dipicu oleh beberapa faktor seperti usia, kurangnya konsumsi buah dan sayur, merokok, asupan tinggi lemak, riwayat kanker keluarga, serta kelebihan bobot badan. “Semakin bertambahnya usia, risiko terkena kanker usus meningkat,” ujar Aru. Kanker usus besar umumnya ditemukan pada pasien usia 50 - 60 tahun ke atas. “Namun, di Indonesia didapat angka berbeda dan meresahkan,” kata Aru. Di negara maju, Amerika Serikat dan Uni Eropa, pasien kanker usus besar yang berusia 40 tahun hanya berkisar 3 - 6%, di Indonesia 30% lebih. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi kanker usus mencapai 1,8 per 100.000 penduduk.

Faktor utama memicu timbulnya kanker adalah gaya hidup tidak sehat. Makanan tinggi lemak misalnya, memerlukan asam empedu untuk pemrosesannya. “Semakin banyak konsumsi lemak dan lambatnya perjalanan makanan ke lambung karena kurang konsumsi serat menyebabkan asam empedu terlalu lama kontak dengan usus besar. Hasilnya terjadi iritasi pada dinding usus besar yang dapat berkembang menjadi kanker atau pertumbuhan sel ganas,” papar Aru.

Kanker, imbuh Aru, juga muncul akibat kerusakan gen oleh unsur lingkungan. Termasuk di dalamnya paparan polusi asap dan bahan makanan. “Karena usus berperan sebagai “penerima” bahan makanan dari luar, maka kejadian kanker usus dianggap paling banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan,” kata ahli kanker kolon itu.

Hal serupa diamini dr Oetjoeng Handajanto, ahli terapi kolon di Bandung, Jawa Barat. Faktor lingkungan termasuk di dalamnya gaya hidup tidak sehat menjadi pencetus terbesar kanker usus. “Bisa dikatakan 50% timbulnya kanker akibat lingkungan serta gaya hidup tidak sehat,” tutur Oetjong. Persis gaya hidup Dharma yang gemar mengonsumsi daging, kurang serat, merokok, serta jarang berolahraga.

Terus naik

Pilihan pengobatan yang disodorkan kepada Dharma adalah menjalani kemoterapi. Namun, ia tegas menolak. Pengalaman menyaksikan kerabatnya mengalami rambut rontok dan badan lemas akibat kemoterapi masih membekas kuat dalam ingatannya. Ia memilih berobat pada seorang dokter di Bandung dan disarankan banyak menyantap makanan kaya serat dan rendah lemak. “Pantangannya daging merah seperti ayam atau kambing,” tutur Dharma. Pemeriksaan pada akhir Desember 2009 kadar CEA turun jadi 7,5 g/ml. Namun, kegembiraan tidak berlangsung lama. Pada Januari 2010 kadar CEA naik jadi 8,75 g/ml. Bahkan pada April 2010 melonjak jadi 9,84 g/ml.

Melihat itu jantung Dharma seolah berhenti berdetak, sel kanker ternyata terus mengganas. Mengikuti saran seorang kerabat, ia pun terbang ke sebuah rumahsakit di Singapura. Lagi-lagi dokter menyarankan untuk menjalani kemoterapi sebanyak 6 kali dengan biaya Rp180-juta. “Saya tolak karena tidak ada jaminan sembuh setelah kemoterapi,” ungkapnya. Namun, kadar CEA-nya naik kembali jadi 11,60 g/ml pada April 2010.

Di tengah kebingungan, ia menerima saran untuk mengonsumsi ramuan herbal tiongkok. Ia meminum seduhan 1 sendok makan ramuan dengan ¾ gelas air hangat sebanyak 3 kali sehari. Nyatanya, setelah menghabiskan Rp30-juta, kadar CEA malah melambung menjadi 12 g/ml. Hasilnya sama sewaktu kelahiran 1944 itu mencoba herbal alternatif lain. Pada Agustus 2010, Dharma akhirnya menyerah. Ia menuruti saran dokter untuk menjalani kemoterapi yang selama ini ia hindari.

Sirsak

Namun, Dharma terkejut bukan kepalang. Setelah menjalani 4 kemoterapi kadar CEA justru melonjak 89,63 g/ml pada Januari 2011. Hasil pemeriksaan pada 17 Januari 2011 pun serupa: CEA 98,98 g/ml. Trombosit pun ikut melorot jadi 67.000 (kadar normal 150.000). Turunnya trombosit alias sel darah merah yang berperan dalam proses pembekuan darah memang salah satu efek kemoterapi. Kondisi yang sangat lemah membuat dokter membatalkan kemoterapi lanjutan. Pada saat itulah sang adik, Karmadibrata, menyarankan untuk menjalani pengobatan alternatif.

Oleh dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir, dokter dan herbalis, di Tangerang, Banten, Dharma diberi ramuan terdiri dari ekstrak daun sirsak Annona muricata, sambiloto Andrographis paniculata, temu mangga Curcuma mangga, dan jus kulit manggis.

Merujuk hasil riset Dr Jerry McLaughlin dari Universitas Purdue, Amerika Serikat daun sirsak mengandung senyawa acetoginins yang terdiri annomuricin E yang bersifat sitotoksik atau membunuh kanker. Senyawa aktif yang disintesis dari kerabat mulwo itu berdasarkan riset McLaughlin memiliki dosis efektif 6,68 x 10-2 terhadap beberapa sel uji kanker termasuk HT-29 atau kanker kolon. Namun, menurut Paulus, untuk pengobatan kanker tidak bisa dilakukan secara tunggal. “Tanaman obat harus dicampur sehingga efek kerjanya sinergis dan maksimal,” tutur dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu. Kombinasi herbal juga untuk menetralisir efek samping.

Dua pekan konsumsi, Dharma bernapas lega. Kadar CEA turun drastis jadi 60,66 g/ml; kadar trombosit terkerek jadi 74.000. Menurut Paulus, kandungan andrografolida dalam sambiloto dimanfaatkan sebagai immunostimulan kekebalan tubuh dengan mendongkrak kadar limfosit dan interleukin-2. Selain itu mempertinggi tumor nerosis factor-alpha (TNF-α) sehingga aktivitas sitotoksis limfosit meningkat terhadap sel darah merah dan berefek antikanker.

Temu mangga kaya antioksidan yang berfungsi mencegah kerusakan deoksiribonukleat alias senyawa penyusun gen. Kandungan kurkuminnya berperan mencegah peradangan atau inflamasi. Sementara itu jus kulit manggis kaya antioksidan. Setiap 100 ounce terkandung 17.000 - 20.000 orac alias oxygen radical absorbance capacity. Orac merupakan kemampuan antioksidan untuk menetralisir radikal bebas penyebab penyakit degeneratif seperti kanker.

Pemeriksaan 12 Februari 2011, kadar CEA pun kembali turun jadi 58,06 g/ml, trombosit naik 2 kali lipat jadi 130.000. Pemeriksaan terakhir 1 Maret 2011, kadar CEA jadi 41,42 g/ml dan trombosit normal di kisaran 150.000. Menurut Paulus, kondisi Dharmamembaik ditandai menurunnya kadar CEA dan naiknya jumlah trombosit. Toh, Paulus menyarankan Dharma untuk tetap mengonsumsi ramuan dan menjaga pola hidup sehat. Berkat gabungan kekuatan sirsak dan herbal lain, tubuh Dharma pun terselamatkan dari “kudeta” kanker. (Faiz Yajri:/Peliput: Rosy Nur Apriyanti dan Sardi Duryatmo

)SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5273:pembebas-derita-kanker-usus&catid=81:topik&Itemid=520

UJIAN PAKET C : KEJAR PAKET C : PENYETARAAN SMA HUBUNGI 085227044550

Daftar Blog Saya