TERAPI AN-NUR : SEHAT DAN SEMBUH TANPA OBAT

Minggu, 03 April 2011

Graviola untuk Kanker Otak

dr Andhika Rachman SpPD salah seorang penggiat daun sirsak untuk kanker otak
Segelas teh daun sirsak yang sembuhkan kanker otak 10000 kali lebih ampuh dari obat kanker lainnya
Apapun jenis kanker otak anda minumlah teh daun sirsak maka akan dibantu kesembuhannya hingga 10000 kali lebih cepat dibanding obat kanker lainnya. Konsumsi juga untuk pencegahan kanker otak dan masalah otak lainnya.

Prof Soelaksono Sastrodihardjo, teliti sirsak 1995-1996 dengan biaya dari Bank Dunia.

Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Sedianya Nelleke Sosromihardjo menghadiri pesta pernikahan adiknya pada Juli 2009. Namun, usai mandi dan berpakaian rapi, bukannya berangkat ke pesta, tetapi ia justru tidur pulas di kamarnya.

anak-anaknya lebih dulu berangkat ke pesta pernikahan karena membawa kue dan penganan lain. Sedangkan suaminya berangkat dari kantor. Keesokan harinya keluarga bertanya alasan Nelleke tak menghadiri pesta pernikahan sang adik. Nelleke kaget, “Oh ya… padahal, kemarin saya sudah mandi. Kok lupa ya?” Ia benar-benar alpa bahwa kemarin adiknya melangsungkan pernikahan. Nelleke Sosromihardjo lupa menepati janji.

Setelah kejadian itu, ingatannya malah memburuk. Perempuan 53 tahun itu tak dapat mengetahui nama hari atau nama benda di sekitar dia. Jika minta tolong kepada pramuwisma untuk mengambil sesuatu, ia hanya menunjuk benda yang dimaksud, tanpa menyebut namanya. Ia sering salah sebut nama hari atau tanggal. Meski demikian ia bersikeras dirinya yang benar. Bahkan, pada siang hari yang terang benderang, ia tidak tahu apakah itu pagi, siang, sore, atau malam.

Tanpa respon

Keluarga membawa Nelleke ke sebuah rumahsakit di Jakarta Selatan pada Juli 2009 karena kondisinya kian mengkhawatirkan. Setelah melalui pemeriksaan intensif, antara lain dengan pencitraan resonansi magnetik (MRI magnetic resonance imaging), dokter mendiagnosis Nelleke positif kanker otak. Sel kanker metastasis ke pelipis kanan dan menekan saraf-saraf motorik di kepala.

Untuk mengatasi penyakit ganas itu, dokter menyarankan agar Nelleke menjalani operasi pengangkatan sel kanker. Sayangnya, di rumahsakit itu fasilitas tak begitu lengkap sehingga dokter merujuk ke rumahsakit lain di Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Pascaoperasi Nelleke mengonsumsi lebih dari 5 jenis obat 3 kali sehari. Kondisi kesehatan Nelleke pun berangsur pulih. Ia mampu menyebut nama-nama benda di sekitarnya.

Namun, sepuluh bulan berselang, pada Mei 2010, tiba-tiba kondisi Nelleke memburuk. Dokter yang dulu menangani Nelleke dalam operasi, memang telah memprediksi bahwa dalam setahun mendatang sel kanker tumbuh lagi. Nelleke tak mampu berkomunikasi. Jika keluarga atau kerabat memanggil namanya, ia tak menyahut. Menurut suster yang merawat di rumah, Nelleke menolak makan dan minum. Ibu tiga anak itu tidak mau melakukan apa pun. Adik Nelleke, Tirza Tuwahatu, yang menjenguk melihat kondisi Nelleke yang datar. “Matanya kosong, ia menatap ke depan dan tidak ada reaksi, meski namanya dipanggil,” kata Tirza.

Keluarga kembali membawa Nelleke itu ke rumahsakit di Kota Tangerang Selatan. Menurut dokter yang memeriksanya, kondisi Nelleke memburuk juga diperparah oleh karena perawat di rumah tak memberikan obat. Perawat tak telaten karena untuk minum satu obat, Nelleke membutuhkan 15 menit. Harap mafhum, fungsi motorik tenggorokannya belum pulih benar. Tirza sebenarnya curiga karena tiap kali bertanya kepada perawat, apakah sudah memberikan obat, ia selalu menjawab sudah.

Padahal, dengan obat yang begitu banyak seharusnya perlu waktu agak lama untuk meminumkannya. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa kanker otak membesar dalam sembilan bulan sejak operasi pada Agustus 2009. Untuk mengatasinya, Nelleke menjalani lima kali kemoterapi pada Juni 2010. Setelah operasi kedua, keadaan Nelleke berangsur-angsur pulih.

Ia bisa berjalan, meski perlahan-lahan. Selain itu memori Nelleke tampak lebih baik. Ia mampu mengingat dan menyebut nama-nama benda setelah operasi kedua. Namun, pada pertengahan Agustus 2010, ia bagai tak putus dirundung malang. Nelleke mendadak tidak bisa berjalan sehingga memerlukan bantuan orang lain dengan duduk di atas kursi roda. Saat itu ia juga kesulitan berbicara. Kesehatannya kembali memburuk.

Untuk ketiga kalinya, keluarga bergegas membawa Nelleke ke rumahsakit. Mengutip pendapat dokter, Tirza Tuwahatu mengatakan bahwa kemoterapi tidak memberikan pengaruh positif, justru merusak organ tubuh lain. Obat kemoterapi sama sekali tidak menyentuh sel kanker. Akibatnya sel kanker kembali membesar beberapa milimeter. Menurut dr Andhika Rachman SpPD, ahli kanker dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, keberhasilan kemoterapi konvensional untuk mengatasi kanker otak memang kecil.

Tingkat keberhasilan kemoterapi cukup baik untuk kanker otak jinak seperti meningioma dan jika hanya sedikit massa yang diambil. Artinya sel kanker masih kecil. Namun, setelah kemoterapi biasanya pasien mengalami gejala sisa mirip pasien stroke. “Makin besar massa kanker, makin besar pula gejalanya,” kata dr Andhika Rachman SpPD. Itulah sebabanya pengobatan kanker otak sebaiknya dengan penyinaran lebih banyak dan operasi pengangkatan.

Masih misteri

Andhika Rachman dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik Rumahsakit Ciptomangunkusumo mengatakan bahwa sampai saat ini penyebab pasti munculnya kanker otak masih misteri. Tidak seperti kanker paru yang diakibatkan kebiasaan merokok. Gejala awal kanker otak berupa sakit kepala yang makin lama bertambah intensitasnya berbanding lurus dengan besarnya massa kanker di otak. Artinya, ketika massa sel kanker bertambah besar, maka intensitas sakit juga meningkat.

Selain itu, “Rasa sakit tergantung dari struktur organ yang ditekan oleh kanker. Sebab, kepala atau tengkorak bersifat rigid, tidak bisa mengikuti pertambahan volume sehingga massa otak terimpit,” ujar dokter alumnus Universitas Indonesia itu. Oleh karena itu gejala neurologis yang timbul akibat sel kanker sangat tergantung pada bagian yang didesak. Kadang-kadang muncul sakit kepala dengan penglihatan ganda atau diplopia. Menurut Rachman itu akibat daerah percabangan saraf atau optik bagian depan terserang sel kanker.

Namun, jika di daerah belakang yang terserang kanker, maka menyebabkan gangguan keseimbangan. Pada umumnya penderita kanker otak merasakan sakit kepala yang hebat sekali. Sialnya, meski pasien disiplin mengonsumsi obat analgetik, tak cukup untuk meredakan sakit hebat itu. “Bila posisi kanker di daerah lindik, kadang-kadang emosinya berubah-ubah,” kata dokter spesialis penyakit dalam itu. Harap mafhum, lindik memang berfungsi sebagai pengatur pusat emosi.

Singkat kata tulang tengkorak bersifat rigid atau tetap. “Sakit kepala timbul karena tekanan yang tinggi,” kata Rachman. Menurut dr Budi Darmawan Machsoos SpPD dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, lokasi tumor pada organ vital lebih cepat menimbulkan keluhan atau gejala yang khas. Organ vital itu antara lain otak, paru, pankreas, dan ginjal. Semakin lanjut stadium tumor, maka kian banyak keluhan.

Andhika Rachman mengatakan bahwa deteksi dini sel kanker paling bagus agar dapat penanganan tepat. Namun, pada kasus kanker otak, tidak semua bisa diangkat. Sebab, prinsip pengangkatan sel kanker termasuk area di sekitarnya hingga margin 2 mm. “Jika area dengan margin 2 mm diambil, massa otak bisa habis,” kata Rachman. Oleh karena itu pengangkatan kanker otak sebaiknya ketika sel kanker masih kecil atau belum menekan saraf otak.

Mengecil

Ketika kondisi Nelleke tak kunjung membaik, Tirza memberikan ekstrak daun sirsak dan herbal lain seperti sambiloto atas saran seorang herbalis. Sambiloto Andrographis paniculata berperan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh Nelleke. Ketika kekebalan tubuh meningkat, mampu mengatasi gangguan kesehatan. Tirza menuangkan isi kapsul, mencairkan, dan memberikan kepada Nelleke. Dosis masing-masing satu kapsul tiga kali sehari.

Menurut dr Andhika Rachman SpPD herbal sebagai terapi suportif seperti dilakukan Nelleke bagus sekali. “Pertama, karena adanya senyawa antikanker dalam herbal itu. Kedua, akan meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Rachman. Ia tidak menyarankan herbal, tapi juga tidak melarang jika pasiennya ingin meminumnya. Yang penting dosisnya jelas.

Perkembangan signifikan terjadi setelah 12 hari Nelleke rutin mengonsumsi kapsul daun graviola alias sirsak. “Ia sudah bisa merespon jika ada yang memanggil namanya, diajak bicara sudah bisa menjawab meski masih terbata-bata. Ia pun bisa mengangkat tangannya setinggi bahu,” kata Tirza. Saat ini pengobatan Nelleke hanya berupa ekstrak herbal seperti daun sirsak dan sambiloto serta fisioterapi. Ahli fisioterapi dari sebuah rumahsakit di Jakarta Barat datang ke rumah Nelleke di Jakarta Selatan. Frekuensi fisioterapi tiga kali sepekan masing-masing selama satu jam.

Nelleke memeriksakan diri terakhir pada awal Maret 2011. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa ukuran sel kanker mengecil. Sayang, ketika Trubus ingin melihat hasil rekam medis, Nelleke dan Tirza belum dapat memberikan. Sebab, anak-anaknya yang bermukim di Bandung membawa rekam medis itu. Informasi itu Trubus peroleh, setelah pulang liputan di Bandung. Trubus mewawancarai Nelleke di Jakarta.

Perihal membaiknya Nelleke dari kanker otak belum ada riset ilmiah yang mampu menjelaskan secara rinci. Uji praklinis daun sirsak pada umumnya untuk mengatasi kanker serviks, payudara, prostat, kanker paru-paru, ginjal, pankreas, dan usus besar. Peneliti di Sekolah Farmasi Purdue University, Indiana, Amerika Serikat, Jerry L McLaughlin, pun menggunakan ke-7 sel kanker itu. Prevalensi kanker otak memang relatif rendah ketimbang kanker payudara, misalnya.

Menurut data Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan pada 2007, pasien kanker terbanyak yang dirawat di rumahsakit adalah pasien kanker payudara mencapai 8.277 orang, kanker serviks (5.786), kanker hati (4.759), dan leukemia (3.645). Peneliti di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodihardjo PhD meriset daun sirsak bersama Jerry L McLaughlin. Mereka menemukan senyawa aktif acetogenins di dalam daun anggota famili Annonaceae itu.

Uji praklinis membuktikan bahwa acetogenins menghambat adenosina trifosfat (ATP), sumber energi bagi sel kanker. Padahal, sel kanker memerlukan banyak energi karena pembelahan yang sangat cepat. Akibat penghambatan itu maka sel kanker kekurangan pasokan energi sehingga akhirnya sel kanker mati. Acetogenins sangat selektif, hanya menyerang sel kanker yang memiliki kelebihan ATP; sel-sel lain yang normal di dalam tubuh, tak diserang.

Jerry McLaughlin bersama Gina Belessa dan Jerry Loren memang meriset khasiat antikanker otak. Namun, mereka memanfaatkan pawpaw Asimina triloba. Antara sirsak Annona muricata dan pawpaw Asimina triloba memang masih sekerabat. Kedua tanaman itu sama-sama anggota famili Annonaceae. McLaughlin memberikan ekstsrak daun pawpaw kepada enam penderita kanker otak pada Februari 2003. Namun, Journal of Application Publication yang terbit pada 16 Juli 2009, hanya menyebutkan kondisinya membaik (feeling well).

Perbaikan kesehatan Nelleke relatif bagus karena mampu merespon ketika kerabat dan keluarga memanggil namanya. Ia juga dapat menyebut nama benda-benda di sekitarnya. Padahal, secara medis semula tak ada harapan. Ekstraksi daun sirsak dan daun sambiloto telah membangunkan harapan keluarga Nelleke. Tentu saja itu bukan segala-galanya. Sebab, kepedulian keluarga, jiwa, sikap, gaya hidup juga menentukan kesembuhan seseorang. (Sardi Duryatmo/Peliput: Endah Kurnia Wirawati)

SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5274:graviola-untuk-kanker-otak&catid=81:topik&Itemid=520

Pembebas Derita Kanker Usus

dr Oetjoeng Handajanto, salah seorang penggiat obati kanker usus dengan daun sirsak.

Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

“Oeekk…!!!” Muntah berupa kotoran itu puncak derita Dharma Adhi. Dua belas hari kesulitan buang air besar, dokter memvonis Dharma menderita kanker usus.

Dharma Adhi, sebut saja demikian namanya, mulai mengeluhkan sembelit sejak Oktober 2009. Mula-mula frekuensi buang air besar berkurang, dan tak tuntas. “Seolah masih ada yang mengganjal dan tersisa,” tutur ayah 2 anak itu. Kian hari bahkan ia tidak dapat berhajat sama sekali. Dua pekan berlalu, perut Dharma pun membuncit.

Wina Sundari, sang istri, bergegas membawa Dharma ke unit gawat darurat sebuah rumahsakit di Bandung, Jawa Barat. Doker jaga menyarankan Dharma mengonsumsi larutan garam inggris. Epsom salt - karena berasal dari Epsom, Surrey di Inggris - itu mengandung magnesium sulfat dan kerap digunakan sebagai pencahar. Garam inggris meningkatkan kadar air dalam usus sehingga kotoran melembek dan mudah dikeluarkan.

Setengah jam setelah mereguk 2 sendok makan larutan garam inggris, mulas pertanda hendak buang air besar tak kunjung datang. Dharma kembali meminum larutan garam inggris dan menunggu 30 menit. Lagi-lagi belum ada hasil. Pun setelah ia minum sekali lagi dan menunggu 30 menit berikutnya. Pada Sabtu sore itu dokter akhirnya menyarankan Dharma untuk menjalani rontgen pada Senin. Pemeriksaan itu untuk mengetahui lebih pasti penyebab Dharma konstipasi.

Kanker menyebar

Senin pagi, Dharma menjalani rontgen. Sembari menunggu hasil pemeriksaan keluar, ia kembali disarankan untuk mengonsumsi larutan garam inggris. Pria berambut putih itu menurut. Ia mulai meminum garam inggris pukul 11 siang. Karena tidak ada reaksi, selang 2 jam kemudian, larutan garam inggris kembali ia konsumsi.

Tak ada hasil, Dharma pun menelepon ke rumahsakit dan disarankan untuk menghabiskan konsumsi larutan garam inggris. Total jenderal ia hari itu menghabiskan 6 gelas larutan garam inggris. Tak tahan penderitaan itu, Dharma meminta sang istri menyiapkan baju dan bersiap pergi ke rumahsakit. “Kata bapak lebih baik opname di rumahsakit, jika terjadi sesuatu mudah ditangani,” kata Wina.

Sesampainya di rumahsakit, lagi-lagi pria kelahiran 14 Maret itu diminta mengonsumsi larutan garam inggris. “Melihatnya saja sudah mual,” tuturnya. Setelah meminum 2 gelas larutan itulah tiba-tiba ia memuntahkan kotoran dari mulut. Hasil rontgen menunjukkan sebuah benjolan sebesar telur ayam di usus besar dan menghalangi keluarnya tinja.

Dharma pun menjalani operasi pengangkatan tumor. Usus besarnya pun turut dibuang sepanjang 20 cm. Setelah istirahat selama 7 hari di rumahsakit dan menghabiskan biaya Rp50-juta, pria 67 tahun itu diperbolehkan pulang. Sebuah plastik kolostomi untuk menampung kotoran dipasang di bagian pinggang.

Menurut dr Nano Sukarno di Majalengka, Jawa Barat, perubahan pola defekasi (pengeluaran kotoran) menjadi lebih jarang, buang air besar berdarah, bobot badan turun, anemia, serta nyeri pada bagian perut merupakan beberapa indikasi terjadinya kanker usus. Normalnya waktu transit makanan mulai dari konsumsi hingga dikeluarkan lagi melalui feses tidak melebihi 48 - 72 jam. Oleh karena itu kewaspadaan dini dengan memeriksakan diri ke dokter merupakan hal yang dianjurkan.

Hasil pemeriksaan pascaoperasi menunjukkan kanker usus stadium 3b yang diderita Dharma telah menjalar ke paru-paru dan liver. Di paru-paru terdapat 4 bercak berukuran 5 - 7 mm. Sementara di liver ada 3 bercak mencurigakan. Nilai CEA carcio embryonic antigen 8 ng/ml, kadar normal 5 ng/ml.

Pola hidup

Menurut The Gale Encyclopedia of Cancer, CEA merupakakan antigen tumor yang ditemukan dalam darah penderita kanker terutama usus besar, payudara, kandung kemih, leher rahim, dan indung telur. Nilai CEA digunakan sebagai penanda perkembangan sel kanker pascaoperasi. “Jika CEA naik pertanda sel kanker kambuh atau menyebar ke organ lain,” tutur dr Sunarto Reksoprawiro SpB(K) Onk, ahli bedah onkologi di rumahsakit dr Soetomo, Surabaya. Pertumbuhan sel kanker yang cepat ibarat mengudeta sel normal.

Dr Aru Wisaksono Sudoyo SpP, KHOM, FCAP, FINASIM dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, menuturkan kanker usus dipicu oleh beberapa faktor seperti usia, kurangnya konsumsi buah dan sayur, merokok, asupan tinggi lemak, riwayat kanker keluarga, serta kelebihan bobot badan. “Semakin bertambahnya usia, risiko terkena kanker usus meningkat,” ujar Aru. Kanker usus besar umumnya ditemukan pada pasien usia 50 - 60 tahun ke atas. “Namun, di Indonesia didapat angka berbeda dan meresahkan,” kata Aru. Di negara maju, Amerika Serikat dan Uni Eropa, pasien kanker usus besar yang berusia 40 tahun hanya berkisar 3 - 6%, di Indonesia 30% lebih. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi kanker usus mencapai 1,8 per 100.000 penduduk.

Faktor utama memicu timbulnya kanker adalah gaya hidup tidak sehat. Makanan tinggi lemak misalnya, memerlukan asam empedu untuk pemrosesannya. “Semakin banyak konsumsi lemak dan lambatnya perjalanan makanan ke lambung karena kurang konsumsi serat menyebabkan asam empedu terlalu lama kontak dengan usus besar. Hasilnya terjadi iritasi pada dinding usus besar yang dapat berkembang menjadi kanker atau pertumbuhan sel ganas,” papar Aru.

Kanker, imbuh Aru, juga muncul akibat kerusakan gen oleh unsur lingkungan. Termasuk di dalamnya paparan polusi asap dan bahan makanan. “Karena usus berperan sebagai “penerima” bahan makanan dari luar, maka kejadian kanker usus dianggap paling banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan,” kata ahli kanker kolon itu.

Hal serupa diamini dr Oetjoeng Handajanto, ahli terapi kolon di Bandung, Jawa Barat. Faktor lingkungan termasuk di dalamnya gaya hidup tidak sehat menjadi pencetus terbesar kanker usus. “Bisa dikatakan 50% timbulnya kanker akibat lingkungan serta gaya hidup tidak sehat,” tutur Oetjong. Persis gaya hidup Dharma yang gemar mengonsumsi daging, kurang serat, merokok, serta jarang berolahraga.

Terus naik

Pilihan pengobatan yang disodorkan kepada Dharma adalah menjalani kemoterapi. Namun, ia tegas menolak. Pengalaman menyaksikan kerabatnya mengalami rambut rontok dan badan lemas akibat kemoterapi masih membekas kuat dalam ingatannya. Ia memilih berobat pada seorang dokter di Bandung dan disarankan banyak menyantap makanan kaya serat dan rendah lemak. “Pantangannya daging merah seperti ayam atau kambing,” tutur Dharma. Pemeriksaan pada akhir Desember 2009 kadar CEA turun jadi 7,5 g/ml. Namun, kegembiraan tidak berlangsung lama. Pada Januari 2010 kadar CEA naik jadi 8,75 g/ml. Bahkan pada April 2010 melonjak jadi 9,84 g/ml.

Melihat itu jantung Dharma seolah berhenti berdetak, sel kanker ternyata terus mengganas. Mengikuti saran seorang kerabat, ia pun terbang ke sebuah rumahsakit di Singapura. Lagi-lagi dokter menyarankan untuk menjalani kemoterapi sebanyak 6 kali dengan biaya Rp180-juta. “Saya tolak karena tidak ada jaminan sembuh setelah kemoterapi,” ungkapnya. Namun, kadar CEA-nya naik kembali jadi 11,60 g/ml pada April 2010.

Di tengah kebingungan, ia menerima saran untuk mengonsumsi ramuan herbal tiongkok. Ia meminum seduhan 1 sendok makan ramuan dengan ¾ gelas air hangat sebanyak 3 kali sehari. Nyatanya, setelah menghabiskan Rp30-juta, kadar CEA malah melambung menjadi 12 g/ml. Hasilnya sama sewaktu kelahiran 1944 itu mencoba herbal alternatif lain. Pada Agustus 2010, Dharma akhirnya menyerah. Ia menuruti saran dokter untuk menjalani kemoterapi yang selama ini ia hindari.

Sirsak

Namun, Dharma terkejut bukan kepalang. Setelah menjalani 4 kemoterapi kadar CEA justru melonjak 89,63 g/ml pada Januari 2011. Hasil pemeriksaan pada 17 Januari 2011 pun serupa: CEA 98,98 g/ml. Trombosit pun ikut melorot jadi 67.000 (kadar normal 150.000). Turunnya trombosit alias sel darah merah yang berperan dalam proses pembekuan darah memang salah satu efek kemoterapi. Kondisi yang sangat lemah membuat dokter membatalkan kemoterapi lanjutan. Pada saat itulah sang adik, Karmadibrata, menyarankan untuk menjalani pengobatan alternatif.

Oleh dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir, dokter dan herbalis, di Tangerang, Banten, Dharma diberi ramuan terdiri dari ekstrak daun sirsak Annona muricata, sambiloto Andrographis paniculata, temu mangga Curcuma mangga, dan jus kulit manggis.

Merujuk hasil riset Dr Jerry McLaughlin dari Universitas Purdue, Amerika Serikat daun sirsak mengandung senyawa acetoginins yang terdiri annomuricin E yang bersifat sitotoksik atau membunuh kanker. Senyawa aktif yang disintesis dari kerabat mulwo itu berdasarkan riset McLaughlin memiliki dosis efektif 6,68 x 10-2 terhadap beberapa sel uji kanker termasuk HT-29 atau kanker kolon. Namun, menurut Paulus, untuk pengobatan kanker tidak bisa dilakukan secara tunggal. “Tanaman obat harus dicampur sehingga efek kerjanya sinergis dan maksimal,” tutur dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu. Kombinasi herbal juga untuk menetralisir efek samping.

Dua pekan konsumsi, Dharma bernapas lega. Kadar CEA turun drastis jadi 60,66 g/ml; kadar trombosit terkerek jadi 74.000. Menurut Paulus, kandungan andrografolida dalam sambiloto dimanfaatkan sebagai immunostimulan kekebalan tubuh dengan mendongkrak kadar limfosit dan interleukin-2. Selain itu mempertinggi tumor nerosis factor-alpha (TNF-α) sehingga aktivitas sitotoksis limfosit meningkat terhadap sel darah merah dan berefek antikanker.

Temu mangga kaya antioksidan yang berfungsi mencegah kerusakan deoksiribonukleat alias senyawa penyusun gen. Kandungan kurkuminnya berperan mencegah peradangan atau inflamasi. Sementara itu jus kulit manggis kaya antioksidan. Setiap 100 ounce terkandung 17.000 - 20.000 orac alias oxygen radical absorbance capacity. Orac merupakan kemampuan antioksidan untuk menetralisir radikal bebas penyebab penyakit degeneratif seperti kanker.

Pemeriksaan 12 Februari 2011, kadar CEA pun kembali turun jadi 58,06 g/ml, trombosit naik 2 kali lipat jadi 130.000. Pemeriksaan terakhir 1 Maret 2011, kadar CEA jadi 41,42 g/ml dan trombosit normal di kisaran 150.000. Menurut Paulus, kondisi Dharmamembaik ditandai menurunnya kadar CEA dan naiknya jumlah trombosit. Toh, Paulus menyarankan Dharma untuk tetap mengonsumsi ramuan dan menjaga pola hidup sehat. Berkat gabungan kekuatan sirsak dan herbal lain, tubuh Dharma pun terselamatkan dari “kudeta” kanker. (Faiz Yajri:/Peliput: Rosy Nur Apriyanti dan Sardi Duryatmo

)SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5273:pembebas-derita-kanker-usus&catid=81:topik&Itemid=520

Daun Sirsak Vs Metastasis Kanker Pita Suara


Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Sore itu, saat sedang menggoda 2 cucu ciliknya tiba-tiba dada Ng Tung Hauw sesak. Lehernya seperti tercekik, sulit bernapas, dan kakinya lemas. Dalam hitungan detik tubuh Hauw ambruk ke lantai. Di lantai keramik putih itu wajahnya tampak biru lebam. Sontak suasana yang awalnya ceria berubah mendung. Semua penghuni rumah panik. Sang anak lalu membopong Hauw ke mobil untuk dibawa ke rumahsakit.

Beruntung sepanjang perjalanan tidak ada kemacetan. Selang 30 menit mobil bercat hitam tiba di sebuah rumahsakit di Kelapagading, Jakarta Utara. Hauw langsung dibawa ke unit gawat darurat (UGD). Di sana perawat memasangkan masker oksigen untuk membantunya bernapas. Tetap saja pria 66 tahun itu sulit bernapas. Celakanya, denyut nadi Hauw semakin lemah. Wajahnya kian membiru serta tangan dan kakinya mulai terasa dingin. “Saya nyaris meninggal,” kenang Hauw.

Segera saja Hauw dilarikan ke ruang intensive care unit (ICU). Dokter menyatakan ada massa yang mengganjal di bagian laring atau kotak suara Hauw. Menurut Prof dr Bambang Hermani, Sp. THT-KL(K), dosen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan (THT), Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, laring salah satu organ vital. “Organ itu bertugas mempertahankan jalan pernapasan, melindungi jalan pernapasan dan paru paru, serta membantu mengatur sirkulasi udara. Laring juga sumber suara atau fonasi, membantu proses menelan, dan mengekspresikan emosi,” ujar Bambang.

Perokok berat

Dokter kemudian melakukan laryngoscopy - memasukkan semacam cermin ringan dan kecil ke belakang tenggorokan - untuk melihat kondisi tenggorokan. Dari cermin itu terlihatlah benjolan yang mengganggu jalan pernapasan. Contoh jaringan yang mengganggu diambil (biopsi) untuk diteliti. Hari itu juga Hauw menjalani operasi pemasangan stoma permanen di leher untuk bernapas.

Keesokan hari, pukul 21.00 WIB, hasil lab contoh jaringan keluar. Dari hasil lab dokter menvonis Hauw mengidap kanker pita suara stadium 4 tipe supraglotik yang agresif menyebar. Tipe lain, glotik lebih lambat menyebar tapi kerap menyebabkan penyebaran ke subglotik. Vonis itu bak petir di siang bolong. “Kami tidak memberitahukan berita itu ke Papa. Takut Papa down dan stres,” ujar Hen Wie, putra ke-3 dari 4 bersaudara. Saran dokter, “Pita suara harus diangkat agar sel kanker tidak metastasis atau menyebar,” imbuh Hen Wie.

Sebelumnya Hauw memang pernah divonis tumor pita suara saat berobat ke Hongkong pada September 2009. Gejalanya sama, ia kerap sulit bernapas. Namun, saat itu dokter menyatakan tumor yang bersarang di pita suara kanan Hauw jinak. “Menurut dokter tumor bisa saja tidak dioperasi tapi dapat ditangani dengan mengonsumsi obat-obatan,” kenang Hen Wie. Hauw memilih mengonsumsi obat-obatan. Setelah seminggu dirawat, Hauw kembali ke tanahair. Kondisinya membaik dan dapat bernapas lega.

Tak dinyana, selang 5 bulan tumor jinak itu malah berbalik menjadi ganas. Kakek 11 cucu itu terancam kehilangan pita suara. Seharusnya operasi pengangkatan pita suara dilakukan seminggu setelah operasi pertama. Namun kondisi Hauw lemah, ia kekurangan albumin sehingga operasi diundur. Normalnya, kadar albumin dalam darah 3,5 sampai 5 g/ dL. Untuk mendongkrak albumin Hauw mengonsumsi obat berupa sirup satu sendok sehari.

Albumin normal diperoleh setelah menghabiskan 8 botol sirup seharga Rp2,4-juta per botol. Malam sebelum hari raya Imlek, 13 Februari 2010, harusnya dilewati Hauw dengan makan bersama keluarga. Ia malah terbaring di meja operasi selama 2 jam. Hauw pasrah tidak dapat bersuara alias afoni usai operasi. “Yang penting sehat dan bisa bernapas,” kata Hauw. Untuk bersuara Hauw berlatih teknik esophageal speech. Caranya, menelan udara dan mengumpulkannya dalam esophagus (lambung) lalu perlahan dikeluarkan untuk menghasilkan suara.

Serak

Seminggu pascaoperasi barulah Hauw tahu operasi itu untuk mengangkat sel kanker. Prevalensi kanker laring memang jarang. Namun, bila tidak ditangani dengan benar dapat berujung kematian. Di bidang kesehatan telinga, hidung, tenggorokan (THT) kanker itu menempati urutan teratas di beberapa negara Eropa seperti Italia, Jerman, Perancis, dan Polandia. Data European Cancer Observatory pada 2008 jumlah penderita kanker laring di Italia mencapai 4.342 orang, Jerman 4.107 orang, Perancis 3.434 orang, dan Polandia 3.259 orang.

Ryan P. Smith, MD dan Christine Hill-Kayser, MD, di The Abramson Cancer Center of the University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 2008 melaporkan sebanyak 12.000 kasus kanker laring muncul di Amerika per tahun. Sebanyak 4.200 kasus berujung kematian. “Di Indonesia belum ada data pasti. Namun di bidang THT menempati urutan kedua setelah nasofaring,” kata Bambang.

Sejatinya keganasan laring dapat dideteksi sejak dini. Gejala awalnya berupa suara serak. “Bila suara serak lebih dari 2 minggu pertanda adanya infeksi atau tumor pada laring,” kata Bambang. Itulah yang dialami Hauw. Mantan pengusaha tambang itu mengira ia kelelahan sehingga suaranya serak. Suara semakin parau sampai tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Hauw. Infeksi atau kehadiran tumor membuat pita suara tidak teratur sehingga kerjanya terganggu. Kehadiran benda asing atau pun radang menyebabkan penyempitan celah pita suara.

Ujung-ujungnya sulit bernapas. Menurut Bambang sesak napas atau dispnea serta napas berbunyi (stridor) merupakan gejala akibat gangguan jalan napas oleh massa tumor. Hal itu sekaligus tanda tumor memasuki stadium lanjut. “Perluasan tumor dapat menyebabkan disfagia atau sulit menelan, batuk, sampai batuk berdarah. Namun itu tergantung perluasan tumor,” ujar Bambang.

Gara-gara rokok

Sebetulnya penyebab pasti kanker laring belum diketahui. Namun, ada berbagai faktor pemicu munculnya kanker laring. “Faktor utama adalah rokok,” kata Bambang. Pengamatan Bambang di rumahsakit Carolus dan RS Proklamasi, sekitar 80 - 90% penderita kanker laring adalah perokok berat. Umumnya penderita menghabiskan 1,5 - 2 bungkus rokok per hari. Sebungkus rokok berisi 12 batang. Penyebab lain adalah berlebihan mengonsumsi minuman beralkohol. Kombinasi keduanya melecut risiko sampai 40 kali lipat.

Selain rokok dan alkohol, iritasi debu kayu, asbes, produk tar, dan debu industri kimia juga melecut munculnya kanker kotak suara. Semua itu mengandung radikal bebas. Radikal bebas memicu kemunculan sel kanker. Menurut dr Nany Leksokumoro, MS, SpGK, ahli gizi klinis di rumahsakit Family, Pluit Mas, Jakarta Utara, radikal bebas dapat ditekan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Yang utama cukup serat. “Serat sumber antioksidan yang dapat melawan radikal bebas,” kata Nany.

Idealnya, kebutuhan serat sekitar 32 - 34 g/hari. Serat dapat diperoleh dengan mengonsumsi buah dan sayuran 3 - 5 kali per hari. Pencegahan lain, pastikan tenggorokan tidak kering. Musababnya, cairan menjaga lendir di tenggorokan tidak terlalu banyak sehingga mudah dibersihkan. Dengan demikian peluang iritasi bakteri atau virus kecil.

Kebanyakan kanker laring menyerang laki-laki atau perbandingan 11 : 1 dengan perempuan. “Rata-rata menyerang laki-laki berusia 50 tahun-an. Namun, kini usia penderita semakin muda. Bahkan ada yang berusia 22 tahun,” kata Bambang. Bukan berarti perempuan terbebas dari kanker laring. Pengataman Bambang setiap tahun jumlah perempuan mengidap kanker laring semakin meningkat. Sebab perempuan masa kini banyak yang merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

Secara medik penanganan kanker laring sama seperti kanker lain, yaitu melalui operasi, radiologi, dan kemoterapi. Atau kombinasi 2 atau 3 tindakan tersebut. Tindakan itu tergantung stadium perluasan invasi tumor berdasarkan klasifikasi TNM (ukuran tumor, node - kelenjar getah bening regional, dan metastasis). Pada stadium I tumor dihilangkan dengan radiologi atau penyinaran. Operasi dan kemoterapi dilakukan pada stadium 2 sampai lanjut.

Metastasis

Pada stadium lanjut - di atas stadium 2 - sel kanker metastasis. Biasanya menyebar ke getah bening sehingga menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening di leher. Sel kanker juga dapat metastasis ke organ tubuh lain seperti paru-paru, hati, dan ginjal.

Pascapengangkatan pita suara sebetulnya Hauw dinyatakan bersih. Maksudnya sel kanker pita suara tidak metastasis. Namun, 3 bulan pascaoperasi pengangkatan organ, Hauw kembali sulit bernapas. Ia lalu memeriksakan diri ke rumahsakit di Jakarta Pusat. Hasil rontgen menunjukkan ada benjolan sebesar pilus bersarang di saluran pernapasaan dekat paru-paru. Benjolan yang menghalangi saluran udara itu tak lain adalah sel kanker stadium lanjut. Untuk menghilangkannya ia harus menjalani radiologi (penyinaran).

Kelenjar getah bening di leher pun membesar. Padahal kelenjar getah bening salah satu sistem pertahanan tubuh. Pembesaran dapat terjadi karena peradangan disebabkan masuknya sel-sel ganas.

“Itu bisa saja terjadi. Salah satunya karena operasi sebelumnya tidak bersih sehingga masih ada sel kanker yang tertinggal,” imbuh Bambang. Menurut Bambang sel tertinggal kemungkinan karena tidak terdeteksi saat pemeriksaan. Itu sebabnya, sepekan pascakemoterapi pasien stadium lanjut sebaiknya menjalani radiologi supaya benar-benar bersih, Itu pun peluang terkena kanker masih ada. Maklum, kanker bisa tumbuh kapan saja.

Itu sebabnya pasien perlu rutin kontrol ke dokter. “Umumnya bila selama 5 tahun kanker tidak muncul pasien dapat dinyatakan terbebas dari kanker,” tambah Bambang. Nah, untuk mencegah kembalinya kanker Bambang menyarankan untuk tidak mengonsumsi makanan berpengawet.

10 lembar daun sirsak

Hauw sudah siap menjalani radiologi tapi keinginan itu batal. Awal Juli 2010, Hauw mengikuti saran keluarga untuk berobat pada seorang dokter sekaligus herbalis di Jakarta Barat. Hauw dianjurkan mengonsumsi rebusan daun sirsak segar. Hauw merebus 10 lembar daun sirsak dalam 2 gelas air. Setelah mendidih menjadi segelas dan diminum sekali setiap hari. Sepekan pertama Hauw masih kesulitan bernapas. Napasnya mulai lega setelah 30 hari rutin menyeruput daun sirsak.

Menurut dr Zainal Gani, dokter dan herbalis di Malang, Jawa Timur, kandungan acetogenins dalam sirsak berperan melawan sel kanker. “Daun sirsak mengendalikan kerja mitokondria yang berlebihan mensintesis protein. Protein sumber energi kanker untuk tumbuh dan berkembangbiak,” ujar Zainal.

Riset Joabe Gomes de Melo dan rekan yang dipublikasikan dalam jurnal Molecelus, 24 November 2010, menyebutkan sirsak salah satu dari 4 jenis tanaman di Brasil seperti Lantana camara dan Mentzelia aspera yang mengandung antioksidan tinggi dan memiliki efek sitotoksik. Percobaan dilakukan secara in vitro dengan mengambil sel line kanker laring dan paru-paru.

Awalnya, daun sirsak diekstrak dengan methanol menjadi 300 mL selama 72 jam. Percobaan secara in vitro itu menunjukkan ekstrak daun sirsak mengandung antioksidan pada IC50 bernilai 221,52 ± 16,12 µg/mL. Antioksidan itu yang melawan kerja sel kanker. Uji sitotoksik menunjukkan ekstrak daun sirsak memiliki IC50 kurang dari 1.000 ppm. Pada sel line kanker laring nilainya 54,92 ± 1,44% dan sel kanker paru-paru 24,94 ± 0,74%. Artinya, daun sirsak berpotensi sebagai antitumor.

Selain daun sirsak, Hauw meminum beragam ramuan tradisional seperti sambiloto, keladitikus, dan temuputih. Semua obat itu telah dikemas dengan beragam bentuk seperti serbuk dan kapsul. Semua ramuan di luar kapsul digodok untuk 3 kali minum per hari. Selama pengobatan itu ia berpantang terutama makan daging-dagingan dan ikan air tawar. Itu karena daging sumber protein dan energi bagi sel kanker untuk berkembangbiak. “Ikan laut masih dapat dikonsumsi,” kata Hauw.

Hasilnya, setelah 1 - 2 bulan rutin menyeruput rebusan daun sirsak dan ramuan godok kanker mengecil. Terbukti, sewaktu diteropong di rumahsakit Pantai Indah Kapuk, sel kanker di saluran paru-paru mengecil bahkan nyaris tidak ada. Cairan kelenjar getah bening yang dulunya menumpuk di bawah dagu semakin berkurang mendekati normal. Memang sampai saat ini Hauw masih berjuang menuntaskan kanker hasil metastasis. Namun, yang jelas Hauw kini dapat bernapas lega tanpa menjalani radiologi. Bobot tubuhnya pun kembali normal. Maklum, sejak dinyatakan kanker, bobotnya susut dari 75 kg menjadi 62 kg. (Lastioro Anmi Tambunan

)

sumber : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5272:daun-sirsak-vs-metastasis-kanker-pita-suara&catid=81:topik&Itemid=520

Daun Sirsak vs. Kanker

Penyusun : Redaksi Trubus
Penerbit : PT Trubus Swadaya
Pemasaran : PT Niaga Swadaya
Terbit : Jakarta 2011
  • BUKTI EMPIRIS PENDERITA BERAGAM KANKER
  • RESEP DARI DOKTER DAN HERBALIS
  • BUKTI ILMIAH DI BERBAGAI NEGARA

Tersedia di banyak pekarangan rumah, riset membuktikan daun sirsak ampuh menggempur sel kanker. Kandungan acetogenins menghambat produksi adenosina trifosfat (ATP) yang menjadi sumber energi sel kanker. Akibatnya pasokan energi pun berkurang sehingga sel kanker mati. Beberapa dokter di Tangerang, Jakarta, Bogor, dan Malang "meresepkan" daun sirsak pada pasien kanker.

Banyak pasien merasakan faedahnya: mulai sekadar kembali bernafsu makan, enak tidur, hingga batal operasi. Khasiat daun sirsak kian tangguh jika dikonsumsi berbarengan dengan herbal pendukung lain seperti penguat stamina dan daya tahan tubuh serta menjaga gaya hidup sehat. ***


Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id

KHASIAT SIRSAK

Sirsak sebagai tanaman obat, terutama daun dan bijinya, secara tradisional digunakan untuk mencegah dan mengobati beberapa penyakit berikut, insya allah setelah 20 hari bisa dilihat kesembuhannya.
  1. KANKER PAYUDARA
  2. KANKER SERVIKS
  3. KANKER PROSTAT
  4. Kanker otak
  5. Kanker Hipofaring
  6. Kanker Rongga Hidung dan sinus paranasal
  7. Kanker Esofagus
  8. Kanker Nasofaring
  9. Kanker Orofaring
  10. Kanker Bibir dan Rongga Mulut
  11. Kanker Laring
  12. Kanker Indung Telur ( Ovarium )
  13. Kanker Uterus ( Endometrium )
  14. Kanker Mulut Rahim ( Serviks )
  15. Kanker Pyudara ( Mammae )
  16. Kanker Kolektoral ( Kolon )
  17. Kanker Darah ( Leukemia )
  18. Kanker Kulit
  19. Kanker Jaringan Lunak
  20. Kanker Getah Bening ( Limfoma )
  21. Kanker Tulang
  22. Kanker Kandung Kemih
  23. Kanker Prostat
  24. Kanker Testis
  25. Kanker Paru
  26. Kanker Hepar
  27. Kanker Lambung
  28. Kanker Pankreas
  29. Kanker Ginjal
  30. Diabetes Mellitus
  31. Hipertensi
  32. Tulang persendian nyeri/ngilu/kaku
  33. Maag
  34. Ambeien
  35. Anyang - Anyangan
  36. Sakit Kandung Kemih
  37. Bisul
  38. Mencret Pada Balita
  39. Kejang - Kejang
  40. Sakit Pinggang
  41. Asam Urat
  42. Pembengkakan di kaki / Badan
  43. Cacar
  44. Gatal - Gatal
  45. Disentri
  46. Demam, Relaksasi dan Mudah Tidur
  47. Reumatik
  48. Menjaga Stamina
  49. Keputihan
  50. Flu
  51. Kesemutan
  52. Melancarkan Darah pada Stroke Ringan
  53. Kolesterol
  54. Bisul
  55. Menghilangkan Kutu Kepala
  56. Batuk
  57. Dermatitis
  58. Mengurangi Pendarahan
  59. Borok Luka
  60. Pencernaan lemah
  61. Laktasi
  62. Demam
  63. Flu
  64. Jantung
  65. Parasit
  66. Penenang
  67. Lemas
  68. Kurang Giji
  69. Asma
  70. Tumor
  71. Parasit Cendawan
  72. Sakit Gusi
  73. Ginjal
  74. Bisul Perut
  75. Analgesik
  76. Antipasmodik
  77. Gangguan Hati
  78. Pembersih Darah
  79. Busung
  80. Saraf
  81. Penguat Jantung
Bisa dibeli online di www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id

UJIAN PAKET C : KEJAR PAKET C : PENYETARAAN SMA HUBUNGI 085227044550

Daftar Blog Saya